![]() |
| TVaddicted |
Tri Hastuti Nur MSi dari Lembaga Penelitian dan
Pengembangan PP Aisyiyah (LPPA) mengemukakan hal tersebut pada wartawan di ruang
kerja Jl KHA Dahlan, belum lama ini, demikian seperti yang dikutip dari
Miol.
Untuk itu, PP Aisyiyah bekerjasama dengan Direktorat Pembinaan Ditjen
Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Depdiknas mengadakan lokakarya
dengan peserta para akademisi, KPID, guru, community leader, media massa serta
dari PP Nasyiatul Aisyiyah. Kegiatan ini akan mengambil pilot project di Kota
Yogyakarta untuk kemudian disebarluaskan di seluruh wilayah kerja Aisyiyah di
Indonesia.
Tri menyebut, pelatihan mendatang akan diberikan pada guru dan orangtua.
Sehingga diharapkan mereka akan mampu mensosialisasikan kepada anak/peserta
didik bagaimana memanfaatkan televisi sebagai sumber belajar, bagaimana menonton
televisi yang sehat dan menyikapi tayangan televisi.
“Melek media ini memang harus diajarkan dan terus menerus disosialisasikan,”
tambahnya. Upaya ini menjadi sebuah hal yang penting dilakukan, karena akan
sangat sulit melarang anak untuk tidak menonton televisi. Apalagi orangtua
banyak yang tidak bisa terus menerus berada di dekat anak.
“Kalaupun ada di dekat anak, sebenarnya harus diakui banyak orangtua yang
kurang paham bila menonton televisi secara terus menerus juga akan mengurangi
daya kreativitas anak dan membuat perkembangan sosial menjadi terganggu. Yang
paling parah, anak bisa asosial karena terus menerus menonton televisi,”
tandasnya.
Dikatakan Dosen Fisipol UMY tersebut, meski televisi memberikan porsi untuk
anak-anak, namun hal ini tetap harus dicermati. “Film kartun, misalnya, juga
penuh dengan bahasa kekerasan termasuk film Nickelodeon, Sinchan bahkan juga Tom
& Jerry. Kata-kata kasar seringkali muncul, sehingga sesungguhnya tidak
semua film kartun layak dikonsumsi anak,” tambahnya.








0 komentar:
Posting Komentar